aku, kamu dan mereka
Segalanya memang hanya tergantung pada kedekaatan
hati.
Sekalipun berbagai kisah yang telah berlalu
bersamanya. Dalam sedih, bahagia, kecewa dan dendam. Setahun, dua tahun atau
beberapa tahun silam yang mungkin tak lagi mampu terhitung dalam hitungan jari.
Ketika semua waktu dan kisah berlalu tak mampu merekatkan hati yang dimana jiwa
selalu menghabiskan kisah-kisah baru bersamanya. Itu bukanlah sebuah
ketidakwajaran. Ini lazim terjadi.
Pada hari yang keseribu. Dimana orang-orang
disekitar kian bergilir hadir dan pergi. Ketika kedua jiwa yang selalu bersama
namun kian tak ada kedekatan hati apalagi untuk menyatukan. Maka disana hanya
akan ada persaingan dari segala sisi kehidupan.
Dan ketika mungkin, di hari yang keseribu. Kedekatan
seseorang yang baru sebagai tokoh baru yang hanya membutuhkan waktu sepekan
atau bahkan sehari untuk menyatukan hatinya. Maka ini bukanlah ketidakwajaran.
Ini juga lazim terjadi.
Kedekatan hati kita dengan seseorang tak berpengaruh
pada seberapa banyak waktu yang telah kita lalui bersamanya. Bukan tentang
banyaknya jilid kisah yang telah membersamainya dalam hidup kita. Tapi,
seberapa murni perasaan itu hadir untuknya. Seberapa besar ketulusan itu ada
untuknya. Seberapa istimewanya kebersamaan ia dalam hidup kita. Karena keadaan
hati yang akan menentukan kemana akhir dari kisah. Akhir yang bahagiakah ketika
berpisah atau sebaliknya.
Kita tak mampu mengemis ketulusan. Ini murni
terlahir dalam kebersamaan dan kedekatan. Tidak hanya dipungut begitu saja
dalam putaran waktu yang banyak. Tidak semudah itu. Ketulusan membutuhkan
kemurnian dalam segala hal. Yang tidak melahirkan persaingan tapi saling
mendukung. Tidak menjadikan beban satu sama lain tapi kemudahan. Tidak
menjadikan iman melemah tapi menguatkannya.
Sekalipun bertahun-tahun telah habis, bahkan telah
berumur seabad, jika ketulusan tak bisa hadir diantara mereka maka ketulusan
itu tak akan pernah hadir. Malah menjadika pemahaman itu roboh. Serta keegoisan
yang selalu menyertai.
Kedekatan hati yang terikat akan ketulusan akan
melahirkan banyak mutiara kehidupan. Segalanya menjadi cerita yang menyenangkan.
Setiap menit dalam putaran jam akan terasa begitu berharga. Tak memandang umur
hari, bulan, bahkan tahun.
Jangan tanyakan sudah berapa lama aku mengenalmu,
tapi seberapa tuluskah kau selama ini mengikat kebersamaan? Seberapa tulus kau
menerima setiap sisi kekuranganku? Seberapa tulus kau menghargai setiap
kesalahanku? Seberapa tulus rasa maafmu? Sederajatkah rasa tulusmu dengan rasa
kerinduanmu?
Aku tak memaksa agar kiranya kau menjawabnya dengan
jawaban yang menyenangkan bagiku. Diamlah, biarlah ketulusan itu yang menjawab.
Bukan seberapa lama kita bersama tapi seberapa tulus
kau mnenyertai namaku dalam kisahmu. J
18jan18_
maa sya Allah...
BalasHapus