"Mengapa bukan aku?"


“Aku tidak tahu mengapa aku cemburu.”

Ia memotong kalimatnya. Menatapku yang mulai terpaku mendengar ceritanya. Kemudian tersenyum kecil,

“aku memang suka membaca buku Shirah Shahabiyat. Diantara semua kisah, ada satu yang paling membuat hatiku meringkuk dalam selimut cemburu. Kisah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Wanita yang paling beruntung. Bersuamikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kisah romantis hidupnya bersama Nabi sangat indah diabadikan dalam kitab Shirah. Aku.. bahkan pernah bergumam malu, mengapa bukan aku?”

Saat itu, perkuliahan sudah usai. Akhwat sudah meninggalkan kelas dengan kursi yang sudah dilipat dan disusun rapi berjejer. Menyisakan aku bersama kisah harunya.

“perasaan itu benar adanya loh Ismah. Aku tidak tahu mengapa aku cemburu. Sampai tiba satu malam, aku bermimpi. Mimpi yang sangat indah. Yang merenggut semua perasaan itu.”

Ia terdiam sekian detik. Sengaja membuatku terpaku penasaran. Kemudian tertawa melihat ekspresi lugu dan cupu ku.

“mimpinya bagaimana kak?” aku menggerutu.

“aku bermimpi aku menjadi seorang budak. Budak yang beruntung. Budaknya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Aku tinggal dirumahnya.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“apapun yang Aisyah Radhiyallahu 'anha perintahkan aku lakukan. Dia menyuruhku membersihkan ini itu aku selalu mengerjakannya dengan senang hati. Apapun yg ia inginkan, aku berusaha memenuhinya. Karena aku sangat mencintainya dan merasa sangat beruntung memiliki majikan seperti beliau.”

 “sampai ujung malam tiba, aku terbangun. aku terbangun dengan hati yang masih tersenyum. Mataku sayu meneteskan air mata. Kembali tidur ingin melanjutkan mimpi. Namun Allah cukupkan mimpi itu untuk mengobati gerutunya cemburuku.”

Percakapan tiga tahun yang lalu. :') 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penggaris hidupmu

Kau tahu apa itu cinta?

aku, kamu dan mereka