10 Detik yang Berharga
Hipnotis Hidupmu dalam 10 Detik
Pagi. Waktu dimana
seharusnya menjadi awal yang indah untuk memulai segala aktifitas. Pagi. Waktu yang
paling tepat untuk menentukan planning kehidupan dan langkah-langkah
menuju kesuksesan.
Tapi tidak bagi Hana.
Wajahnya kusut masuk kelas. mengucapkan salam dengan nada yang menyeramkan.
Hanya menatap lantai, tak ada warna sama sekali yang memancar dari dalam
dirinya. Ntah siapa dan apa yang telah merenggut bahagianya hari itu.
“hay Hana, tumben
diam aja..” tanya Nur dengan nada
menggoda. Berusaha menghibur sahabatnya yang dirundung gulana.
Hana hanya
tersenyum tipis sedetik. Ia berjalan ke arah belakang kelas. memilih duduk di
atas lantai. Membuang tas ranselnya dan menyandarkan punggungnya ke dinding yang
tak bersalah. Tatapannya kosong ke depan. Seolah masalah yang sangat besar
telah mencuri kebahagiaannya.
Perlahan ruangan
di penuhi mahasiswi dengan keributan masing-masing. Sebagian berkumpul dan
bercerita, sebagian lainnya sibuk membuat mading, sebagian lainnya bermain
dengan salah satu bayi. Dan Hana masih saja duduk bersandar pada dinding tak
bersalah. Tanpa kata dan tanpa ekspresi.
Beberapa menit
berlalu tanpa arti apa-apa bagi Hana. Tatapannya masih kosong seolah menyimpan
banyak masalah. Raut wajah yang ntah mengekspresikan rasa apa. ia hanya
berkedip pelan dan tersenyum tipis sedetik setiap ada yang menanyakan kabarnya.
“Assalamu’alaikum
wa rahmatullah..” salam sang dosen saat memasuki kelas sembari tersenyum
menatap mahasiswi. Semuanya menjawab salam dengan serempak, kecuali Hana. Ia
tertatih memaksa dirinya duduk di atas kursi.
Dosen memulai
pelajaran dengan pembahasan yang sangat menarik. Pembahasan yang membuat
mahasiswi tercengang. Sesekali perkataan dosen membuat sebagian lainnya mengangguk
paham, sebagian mengutuk diri sendiri, dan sebagian lainnya tertawa. Bukan
karena lucu tapi menertawakan dirinya.
“Setiap dari kita
memiliki masalah dalam hidup. Setiap dari kita memiliki titik down yang
setiap orang berbeda. Setiap dari kita memiliki cara tersendiri untuk bisa
lepas dari masalah. Betul??”
“betul…” jawab
mahasiswi.
“akan tetapi, kita
perlu perkenalan dengan diri kita sendiri, kapan kah kita merasa down?
Saat seperti apakah suasana yang membuat kita ciut seketika?. Nah, hari ini
saya ingin kita tahu siapa diri kita, maka saya beri kerenggangan waktu untuk
berpikir dan menuliskan kekurangan kalian di atas kertas, 15 menit.”
Suasana hangat
memenhui ruangan. Hana yang memilih duduk di bangku paling belakang, lunglai
mengambil kertas. Menuliskan jawabannya di atas kertas dengan santai. Ekspresi
di wajahnya perlahan berubah.
“baik. Waktunya
sudah habis. Masing-masing menyebutkan jawabannya. Dan mari sama-sama kita tanggapi setiap masalah yang
kalian kira itu masalah.”
Aisyah dengan
suara lantangnya langsung menyebutkan semua poin-poin kekurangannya. Semua
telinga sigap mendengar, semua pikiran sigap menyimak, semua hati sigap
menyamai perasaaannya. Usai membacanya dengan lantang, suasana kelas ricuh,
sebagian mahasiswi saling berbisik yang mungkin menanggapi apa yang baru saja Aisyah
baca.
“dari semua poin
kekuarangan yang tadi kamu baca, poin yang menurut kamu itu adalah kekurangan,
justru saya bilang itu adalah kelebihan kamu” tanggap Ustadzah Cahaya.
Perkataan yang
sempurna membuat dahi mahasiswi berkerut. Bagaimana mungkin kekurangan dikatakan
kelebihan?. Apa alasan Ustadzah Cahaya sampai berani mengatakan hal tersebut.
Dan atas konsep yang mana lagi yang akan Ustadzah Cahaya sangkut pautkan dengan
pembelajaran hari ini?.
Hana mulai mengangkat
penanya setelah menuangkan semua poin kekurangan. Ia menarik napas dalam.
Mencoba menyingkirkan benang yang melilit pikirannya dan meluruskannya untuk
fokus pada apa yang disampaikan Ustadzah Cahaya. Sesekali ia melirik kertasnya,
ketika mendengar perkataan yang berhubungan dengan apa yang dituliskannya.
Akhirnya, senyum itu perlahan ringan ia lukis di wajahnya. Ada percikan
semangat yang menampar nalarnya. Ada perkataan yang menyayat keegoisan dalam
dirinya.
Setelah melalui
perdebatan dan perbincangan yang seru tentang kekurangan masing-masing, Ustadzah Cahaya
berkata pelan,
“Akhwat sekalian,
segala kesedihan yang mendalam dan keterpurukan yang sangat memilukan, jangan
pernah biarkan ia melilit hidupmu apalagi sampai mencuri kebahagiaanmu. Jangan
pernah sekali-kali kalian lengah karena masalah. Semua kekurangan yang mungkin
menurut kalian bahwa kekurangan tersebut bukan hal yang bisa dihilangkan, maka
kalian salah!!! Kalian salah besar!” Tegas beliau.
Seketika mata
membelalak menatap wajah Ustadzah.
“saya katakan,
kekurangan itu justru adalah kelebihan kalian. kenapa? Karena kekurangan
memberikan anda kacamata untuk menatap kesalahan-kesalahan yang bisa membuat
anda meloncati sebuah masalah. Kelebihan jika hanya dianggap manisan maka itu
mungkin hal yang lumrah. Akan tetapi jika hidup hanya manis-manis doang
bagaimana mungkin kita bisa tahu mana sedih dan bahagia? Mana cinta mana benci?
Mana gula mana garam?. Kekurangan akan membuat kita semakin cerdas menata
kehidupan. Paham ya?”
“dan untuk semua
kekurangan, mohon jangan jadikan ia beban. Tapi jadikan ia teman. Gini,
terkadang seseorang dilanda galau yang amat membadai hanya karena satu masalah
yang timbul dari kekurangan mereka. Contoh : saya adalah orang yang sangat
tidak pandai berbicara depan umum. Suatu hari saya terpaksa harus menjadi
panitia dalam bidang publikasi karena dipilih oleh ketua kemahasiswaan
misalnya. Saya harus aktif menyosialisasikan acara besar tersebut ke semua
tempat-tempat yang telah di targetkan. Namun, karena saya adalah orang yang tak
pandai dan tak percaya diri berbicara depan umum, saya hanya bisa sosialisasi
di 2 tempat dari 12 target.
Maka terjadilah badai petir antara ketua saya saat mengetahui hal
ini. Ia memarahi saya sepuasnya, sampai petir berlalu turunlah hujan dari ujung
mata saya. Tentu ini semua karena kekurangan bukan? Tapi ketika kalian merasa
down seperti ini, mohon jangan jadikan kekurangan itu beban tapi jadikan ia
teman. Jadikan ia motivator dalam hidupmu. Kalian harus yakin bahwa kekurangan
itu bisa dijadikan tongkat untuk mendaki ke puncak kesuksesan. Jika rasanya
masih sulit, mungkin kalian butuh obat yaitu waktu dan pengalaman. Carilah
pengalaman sebanyak-banyaknya. Dan juga kalian butuh pakaian kokoh yaitu
pakaian keberanian yang harus selalu kalian pakai. Bisa ya?” Tanya Ustadzah
Cahaya lantang
“Naam Ustadzah, InsyaaAllah”, jawab Mahasiswi.
“Tak apa jika kalian harus menangis sesekali karena masalah. Menangislah.
Tapi jangan terlalu larut. Cukup 10 detik saja tangisan itu. Silahkan kalian
hitung sendiri saat menangis. Hitung dari satu sampai sepuluh. Sampai pada
angka sepuluh kalian harus putuskan kalian mau tetap sakit hati atau tidak.
Kalian masih mau nangis atau tidak. Kalian mau berubah atau tidak. Itu mutlak
di tangan kalian. Orang-orang yang bijak pasti menginginkan yang terbaik untuk
dirinya dan hidupnya. Orang-orang sukses pasti memutuskan untuk bangkit dari
keterpurukan. Ingat, jadikan kekurangan teman karib dalam hidup.”
Ustadzah Cahaya
terdiam. Keheningan kelas seolah membuat warna baru merasuk dalam hidup. Hana
tersenyum lirih mendengar semua ulasan yang dikatakan Ustadzah barusan. Ini
hebat, 10 detik ternyata begitu berharga. 10 detik ternyata mampu menentukan
hidup kita 10 jam, hari bahkan tahun kedepannya. 10 detik ternyata kita bisa
menghipnotis diri kita. Tergantung bagaimana kecerdikan kita mengolah
kekurangan itu menjadi teman karib.
Hana akhirnya memutuskan
dalam 10 detik untuk bangkit dan tak peduli pada masalah dunia yang tengah ia
hadapi. Bagaimana denganmu?
Inspirasi dari kisah nyata saat masih mustawa 5. Akhir Tahun 2018.
Semoga Bermanfaat J

Komentar
Posting Komentar