Postingan

Kau tahu apa itu cinta?

Sore menjelang malam. Senja kini adalah pelepas rindu untuk ketiga orang yang bersahabat sejak kecil. Ketiga sahabat yang dulu pernah menjadi pengusir burung di sawah. Namun kini, ketiganya hidup dalam profesi yang berbeda-beda. Saat matahari mulai pamit dari balik gunung Bambapuang, tercipta percakapan sendu. Fidya, Intan dan Luna duduk sejajar diatas sebuah batu besar yang berada ditengah sawah, menikmati kepergian senja. Fidya : “Kau tahu apa itu cinta?” (  menekuk lutut ) Intan : ( tersenyum menatap wajah polos Fidya ) “Apa kau sedang bermimpi?. Sejak kapan   seorang pendaki penasaran akan cinta?” Fidya : “ Loh, emangnya salah?.” ( menyiku lengan Intan yang duduk di sampingnya). Intan : ( tertawa sembari menahan diri yang hampir jatuh dari atas batu ) “ Kepolosanmu bahkan tak berubah sesentipun selama tiga tahun kita berpisah. Hehe, Fidya… Fidya .”  (mengusap kepala Fidya dengan sedikit kasar ). Luna : ( memeluk lututnya yang terlipat. ...

"Mengapa bukan aku?"

“Aku tidak tahu mengapa aku cemburu.” Ia memotong kalimatnya. Menatapku yang mulai terpaku mendengar ceritanya. Kemudian tersenyum kecil, “aku memang suka membaca buku Shirah Shahabiyat. Diantara semua kisah, ada satu yang paling membuat hatiku meringkuk dalam selimut cemburu. Kisah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Wanita yang paling beruntung. Bersuamikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kisah romantis hidupnya bersama Nabi sangat indah diabadikan dalam kitab Shirah. Aku.. bahkan pernah bergumam malu, mengapa bukan aku?” Saat itu, perkuliahan sudah usai. Akhwat sudah meninggalkan kelas dengan kursi yang sudah dilipat dan disusun rapi berjejer. Menyisakan aku bersama kisah harunya. “perasaan itu benar adanya loh Ismah. Aku tidak tahu mengapa aku cemburu. Sampai tiba satu malam, aku bermimpi. Mimpi yang sangat indah. Yang merenggut semua perasaan itu.” Ia terdiam sekian detik. Sengaja membuatku terpaku penasaran. Kemudian tertawa melihat ekspresi lugu dan cupu ku. ...

aku, kamu dan mereka

Segalanya memang hanya tergantung pada kedekaatan hati. Sekalipun berbagai kisah yang telah berlalu bersamanya. Dalam sedih, bahagia, kecewa dan dendam. Setahun, dua tahun atau beberapa tahun silam yang mungkin tak lagi mampu terhitung dalam hitungan jari. Ketika semua waktu dan kisah berlalu tak mampu merekatkan hati yang dimana jiwa selalu menghabiskan kisah-kisah baru bersamanya. Itu bukanlah sebuah ketidakwajaran. Ini lazim terjadi. Pada hari yang keseribu. Dimana orang-orang disekitar kian bergilir hadir dan pergi. Ketika kedua jiwa yang selalu bersama namun kian tak ada kedekatan hati apalagi untuk menyatukan. Maka disana hanya akan ada persaingan dari segala sisi kehidupan. Dan ketika mungkin, di hari yang keseribu. Kedekatan seseorang yang baru sebagai tokoh baru yang hanya membutuhkan waktu sepekan atau bahkan sehari untuk menyatukan hatinya. Maka ini bukanlah ketidakwajaran. Ini juga lazim terjadi. Kedekatan hati kita dengan seseorang tak berpengaruh pada seberap...