Kau tahu apa itu cinta?


Sore menjelang malam. Senja kini adalah pelepas rindu untuk ketiga orang yang bersahabat sejak kecil. Ketiga sahabat yang dulu pernah menjadi pengusir burung di sawah. Namun kini, ketiganya hidup dalam profesi yang berbeda-beda. Saat matahari mulai pamit dari balik gunung Bambapuang, tercipta percakapan sendu. Fidya, Intan dan Luna duduk sejajar diatas sebuah batu besar yang berada ditengah sawah, menikmati kepergian senja.

Fidya : “Kau tahu apa itu cinta?” ( menekuk lutut)
Intan : (tersenyum menatap wajah polos Fidya) “Apa kau sedang bermimpi?. Sejak kapan  seorang pendaki penasaran akan cinta?”
Fidya : “ Loh, emangnya salah?.” (menyiku lengan Intan yang duduk di sampingnya).
Intan : (tertawa sembari menahan diri yang hampir jatuh dari atas batu) “ Kepolosanmu bahkan tak berubah sesentipun selama tiga tahun kita berpisah. Hehe, Fidya…
Fidya.” (mengusap kepala Fidya dengan sedikit kasar).
Luna : (memeluk lututnya yang terlipat. Menatap kepergian senja) “aghh.. Cinta. Aku bahkan tak pernah mencicipi bagaimana asam manisnya cinta. Kata kakekku cinta itu adalah sepasang sayap, yang akan membawamu terbang mengitari jagad. Hingga kaupun merasakan bahwa dunia hanya milikmu seorang. Tapi nyatanya, aku terlantar karena cinta.” (menahan buliran bening yang mulai pasang di kelopak matanya).
Fidya : (Terdiam mendengar kalimat Luna. Memasang wajah heran) “ Ini kali pertamanya aku melihat wajah sembab seorang desainer terkenal. Hmm, tak boleh dilewatkan nih.” (meraih hp dari saku kemejanya).
Luna : (menyeka air matanya. Merebut hp Fidya).
Intan : (serius. Memegang bahu luna) “Mungkin cinta untukmu bukanlah seperti sayap. Tapi, layaknya air sungai. Yang mengalir tak berujung. Mencelah ke tempat yang kosong. Lihatlah, cinta yang kau tuang dalam setiap garis pensilmu, mengalir hingga ke hati para pembeli baju hasil rancanganmu sendiri. Apa itu tak membuatmu bahagia?.”
Fidya : (menyimpan kembali hp ke saku kemejanya. Menatap senja yang indah terarsir dari balik gunung yang ada dihadapannya) “ Aku sependapat denganmu, Luna. Selama ini, aku tak mampu memaknai cinta yang sesungguhnya. Kerap kali kupijakkan kakiku ke atas puncak gunung, hal yang sangat ku cari adalah cinta. Bahkan ingin sekali cinta itu ku abadikan dalam kameraku. Namun …” (tertunduk).
Luna : (mengangkat pandangannya. Melihat burung kenari yang terbang melintas diatas langit. Kemudian, kembali menatap kedua sahabatnya) “ Aku teringat kata Nenekku, bahwa cinta sejati itu seperti hantu. Banyak yang membicarakannya, namun tak sedikit yang pernah melihatnya secara langsung. Dan juga, cinta sejati itu tak harus memerlukan mata tuk mengenalinya. Karena ia datang dengan sendirinya, menyapa hatimu. Namun, aku sampai sekarang tak pernah paham dengan kalimat itu.” (mengangkat satu alisnya)
Luna : (tersenyum) “Kakek dan Nenekmu bijak sekali Intan. Oh iya, aku jadi teringat dengan perkataan salah satu temanku kuliahku dulu, katanya cinta itu, eehmmm. Cinta ituu… ah lupa!”
Intan : (tersenyum. Memperbaiki duduknya) “ Kawan, cinta itu tak terlihat. Mau kau potret dengan kamera tergengsi-pun yang ada di dunia ini, tentu tak mampu. Cinta itu tak harus dicari. Tapi kita harus berjuang menggapai indahnya cinta. Cinta itu sungguh dekat. Bukan terletak dipuncak gunung tertinggi, apalagi dibalik kertas polos untuk merancang busana. Karena ia ada dalam hati, bukankah begitu?” (membalas kedua pasang mata sahabatnya yang mulai terbelalak mendengar jawabannya)
Intan : (mengusir semut yang berlari diatas rok hijaunya) “iya, cinta itu sangat dekat. Ketenangan akan cinta sejati itu memang tak mampu kita takwilkan dalam pandangan dunia. Sobat, pahamilah bahwa cinta sejati itu hanya cinta Allah. Yang tak pernah bertepuk sebelah tangan. Tak susah untuk mencarinya. Cukup kau perbanyak sujud dan taati Ia. Maka kedamaian dan indahnya cinta adalah milikmu. Jadi, kemanapun kamu, jaga hatimu untuk Allah. Itulah cinta.” (tersenyum. Kemudian menunjuk langit yang hampir sempurna hitam)


        Merekapun kembali kerumah masing-masing dengan kalimat baru dari Intan, salah satu  motivator muslimah terbaik. Malam kini menyapa. Percakapan tadi menanam arti hidup akan cinta di hati kedua sahabatnya.

@2015

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penggaris hidupmu

aku, kamu dan mereka